Pembersihan Etnis; Politik 'Israel' Sejak Awal Berdiri

 Sebab 'Israel' tidak akan menerima siapapun yang mengatakan fakta sebenaranya meski dia warga Yahudi.

electronicintifada.net

Dr. Ayedah Al-Najjar

Hari-hari ini 'Israel' paling terburu-buru dalam menerapkan politik pembersihan etnis (bangsa) Palestina. Pekan lalu 'Israel' membunuh warga Palestina di depan mata warga dengan darah dingin tanpa beban. Pada saat dunia memantaunya pun, 'Israel' melakukan kekerasan sistematis terhadap Palestina untuk membersihkan wilayah Palestina dari warga Arab Palestina penduduk asli tanah Palestina. Tanpa peduli siapapun mereka menerapkan rencana Zionis yang diletakkan di konferensi pertama Zionis dunia di Bazel 1897 yang dibangun di atas rasis dan pembersihan etnis. Negara-negara kolonialisme seperti Inggris menggunakan terminology yang mereka terapkan di Afrika selatan. Namun pada akhirnya mereka menyadari ini bertentengan dengan HAM. Pelajaran dari Mandela dan raykatnya sangat penting saat menolak politik kolonialisme rasis.

'Israel' menolak disebut menggelar politik pembersihan etnis di Palestina. Padahal sejumlah laporan para pengamat dan pemantau internasional di bidang HAM dan menutup telinga dari statemen Ricard Falk seorang pakar di Dewan HAM PBB yang bekerja di Palestina yang belakangan menegaskan bahwa 'Israel' membawa karakter-karakter rezim rasis. Setelah memantau dan mengalami cukup lama, Falk tak ragu-ragu mengatakan bahwa 'Israel' melanggar undang-undang internasional. Falk tidak sendirian menyebut 'Israel' melanggara HAM, mantan presiden Amerika, Jimmy Carter dan tokoh internasional lainnya.

Selain itu, ada banyak peneliti dan sejarawan yang mengkritik politik yang diingkari oleh 'Israel' ini. Tak lupa kami ingatkan ada sekelompok akademi (sejarawan baru) dari kalangan 'Israel' sendiri termasuk sejarawan Eyan Babeh yang terpaksa meluruskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan 'Israel' dan mengingkari apa yang terjadi terhadap bangsa Palestina berupa berbagai pelanggaran dan kejahatan kemanusiaan yang ia tuangkan dalam bukunya tahun 2006 (pembersihan etnis Palestina). Sejarawan 'Israel' ini menegaskan pentingnya mengevaluasi riwayat sejarah Zionis soal perang 1948 dan penulisan sejarah baru secara obyektif. Pandangan yang sama dianut oleh sejarawan Palestina Walid Al-Khalidi “agar anda tidak lupa”.

'Israel' juga membungkam suara-suara kebenaran termasuk dengan memecat Babeh dari Universitas Haifa dan mengusirnya ke Inggris. Sebab 'Israel' tidak akan menerima siapapun yang mengatakan fakta sebenaranya meski dia warga Yahudi.

Dalam versi riwayat sejarah 'Israel', bangsa Palestina di tahun 1984 meninggalkan rumah-rumah dan tanah mereka karena keinginan mereka dan bukan karena kejahatan yang digelar 'Israel' atas mereka seperti pembantaian Der Yasin yang diketahui oleh semua dunia dengan suara, kata-kata tertulis dan terucap. Apa yang menjadi keberatan bagi peneliti dan sejarawan adalah klaim 'Israel' dan ngototnya mereka bahwa mereka tidak menyampaikan versi yang benar bahwa mereka telah mengusir 800 ribu warga Palestina, menghancurkan 531 desa dan mengusir warga dari 11 perkampungan Palestina.

'Israel' tidak pernah belajar dari sejarah. Mereka menggelar pembersihan etnis dan tindakan rasis secara sistematis. Hal itu disampaikan oleh pakar HAM di PBB Ricard Falk karena selama enam tahun di Palestina saat memantau dengan mata kepalanya sendiri bagaimana penderitaan pedih warga Palestina akibat kejahatan 'Israel'. Falk melihat sendiri perubahan komposisi etnis di Al-Quds (Jerusalem) Timur, penggsusuran rumah-rumah warga Palestina, pemaksaan warga Palestina agar meninggalkan rumah mereka secara paksa. Barangkali Falk akan terus menyampaikan sejarah fakta sejarah sebenarnya yang berusaha dimanipulasi oleh 'Israel'. (bsyr)

Doustur Jordania

Sumber
iklan

0 Response to "Pembersihan Etnis; Politik 'Israel' Sejak Awal Berdiri"

Posting Komentar

Silahkan berkomentar: