Pseudo Kerakyatan: Membongkar Ilusi PDIP dan Jokowi


Oleh: Lenggah Mardiko*

Lagu ini direlease kurang lebih delapan tahun silam. Salah satu lagu yang populer dari album “I’m Not Dead”. Seperti ini petikan liriknya:

“Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let’s pretend we’re just two people and
You’re not better than me
I’d like to ask you some questions if we can speak honestly

What do you feel when you see all the homeless on the street
Who do you pray for at night before you go to sleep
What do you feel when you look in the mirror
Are you proud?”

Pink, biduanita yang kerap berpenampilan nyentrik, menyanyikan lagu ini dengan begitu cantik beriring irama akustik. “Dear Mr. President” lantas melesat ke peringkat teratas tangga-tangga lagu dunia. Albumnya laris manis, meraup platinum di berbagai negara. Pendek kata, penyanyi asal Pennsylvania itu meraup sukses komersil bernilai jutaan dollar.

Namun kisah “Dear Mr. President” lebih dari sekedar cerita perihal industri musik yang rajin menelurkan hit, sebagaimana kabar penjualan album yang rutin diberitakan majalah Rolling Stones. “Dear Mr. President” digubah demi merepresentasikan sebuah protes. Lagu ini adalah pernyataan dan sikap oposisi terbuka yang diarahkan ke batang hidung George W. Bush, presiden Amerika di periode itu. Pink menjerit, mengolah kemerduan suaranya demi menyalurkan kemarahan atas perang agresi AS dan diskriminasi terhadap homoseksual. Pink melengking, mengabarkan empatinya kepada perlindungan anak serta nasib kaum tak berpunya. Pink yang gundah gulana merasa Bush lah biang keladinya. Bajingan utama yang bertanggung jawab atas segala kekacauan. Pink sepastinya mewakili keresahan klas menengah terhadap ruling class di Washington.

Pink meratapi “American Dream” yang makin menguap diantara kuasa korporasi dan Wall Street. Moralitas borjuis kecilnya terusik. Kemewahan hidup bisa dicecapnya melalui industri musik, sementara ratusan ribu pemuda-pemudi dari keluarga miskin dikirim demi membela keserakahan Rockefeller dan Hallyburton. Lalu tubuh mereka dipulangkan dalam bentuk koyakan daging akibat bom mobil di Kandahar dan Fallujah. Michael Moore, sineas kondang itu, merasakan kegalauan yang serupa dengan sejawatnya ini. Selepas menggegerkan jagad perfilman via “Fahrenheit 9/11″, Moore lekas meluncurkan “Sicko” di tahun 2007. Film ini mendokumenterisasi kebejatan sistem asuransi dan kesehatan di Amerika. Lagi-lagi publik terbelalak, mendapati praktek korporasi yang bermodus operandi ala Mafioso demi merampas hak hidup rakyat jelata. Bush benar-benar semakin tersudut. Klas menengah dengan begitu artistik sudah pula ikutan berteriak. Sementara kebanyakan rakyat memang telah lama menyimpan kemuakannya. Bagai cerita-cerita di film-film Bollywood, kala durjana merajalela dan penduduk makin resah oleh kesewenang-wenangan tuan takur, maka sang hero musti segera muncul.

Dan hero itu pun datang dengan menyakinkan. Mengangkangi tradisi lama trah penguasa yang mapan. Hero itu berkulit gelap dan bukan dari titisan “WASP” (White, Anglo Saxon, Protestan). Ia dibekali tindak-tanduk yang penuh kesahajaan. Wajah, tutur kata dan sikapnya pun begitu legit. Ia suka menyapa orang, pandai memikat hati rakyat jelata dan jago bermain media sosial. Rakyat Amerika seketika terperanjat. Michael Moore kembali mendapatkan energi kreatifnya. Lelaki gemuk itu lantas buru-buru membuat film lagi. Judulnya: Capitalism: A Love Story. Film ini mendongengkan kenestapaan rakyat jelata Amerika, kehancuran sendi-sendi kehidupan klas pekerja, serta persekutuan iblis antara korporasi dan politisi. Michael Moore tak ragu mendeklarasikan serangan frontalnya terhadap kapitalisme. Pada bagian akhir film, muncullah epik “Sosialisme”, bersanding dengan plot kemenangan sang hero dalam Pemilu. Digambarkan rakyat menangis haru. Jaman baru tampaknya akan segera datang. Sungguh dasyat, film ini dengan mantap ditutup hymne agung kaum revolusioner se-dunia: “Internationale”. Benar-benar heroik. Mestinya ini akan seperti John Lenon saat melantunkan: “….a working class hero is something to be”. Dari balik rumah-rumah karton para gelandang di Brooklyn mungkin ada juga yang bergumam: “Dunia akan berganti rupa?”

Sayangnya ini bukan drama yang akan dipungkasi dengan happy ending. Hero itu ternyata tak lebih dari monster yang lain. Hero itu bernama Barrack Obama. Ketua besar Imperialisme, tukang jagal dan sosok linglung yang tak kuasa menangani krisis ekonomi yang melahap Amerika sejak 2008.

Pseudo!

*****

Rieke Dyah Pitaloka berdiri memegang mikrofon. Ribuan massa buruh yang dimobilisasi serikat buruh kuning terlihat menyemut. Perempuan yang akrab dipanggil Oneng itu pun menyalak. Wajahnya memerah, bukan hanya karena semangatnya yang berapi-api, mungkin juga karena sinar matahari kurang akrab di kulitnya. Mulutnya lancar mengutuki upah murah dan sistem kerja outsourcing. Tak lupa ditegaskan kebenciannya pada Neo Liberalisme. Rejim SBY-Boediono dihardik-hardik bak kucing garong yang mencuri lauk anaknya. Sebagian massa pun bertepuk tangan. Oneng seketika berubah dari sosok perempuan oon dalam “Bajaj Bajuri” menjadi aktivis perempuan penuh kharisma layaknya Camila Vallejo di Chile. Orang yang tak ingin celaka tentu saja tak akan mudah disilaukan. Seorang buruh yang waspada, baik pendirian politiknya dan cukup terdidik, tak akan gampang ditipu. Undang-Undang Ketenagakerjaan no 13 tahun 2003 lahir di era kekuasaan Megawati. Regulasi ini hadir ketika Moncong Putih menjadi mayoritas di Senayan. Oneng boleh saja pandai berseni peran, -maklum eks. pesinetron-, seorang sahabat yang menjadi buruh pabrik cokelat akan jujur dan terang benderang menjelaskan kepada kawan-kawannya. Bahwa aturan hukum di jaman gelap Megawati inilah yang melegalkan sistem outsourcing. Bahwa di bawah kuasa Megawati dan Moncong Putih, praktek perdagangan manusia di era modern tersebut menjadi hukum negara.

Di suatu hari, dikisahkan politisi Moncong Putih yang lain mengunjungi korban kekerasan di Sampang. Bersama mimik muka penuh keprihatinan ia tegaskan tentang absennya negara dalam melindungi warganya. Ia juga menolak penggunaan kekerasaan dalam penyelesaikan konflik sektarian. Sungguh terdengar mulia sosok legislator yang satu ini. Mungkinkah dia penganut Ahimsa a.k.a Non Violence Action? Atau bisa jadi dia seorang Slanker yang kemana-kemana gemar berceloteh:”piissss….pisss…pissss?” Jangan keburu sangka. Ini hanya mulut politisi borjuis dalam panggung demokrasi borjuis. Sepuluh tahun silam sebelum konflik di Sampang, Ketua Umum, Ibu bagi semua kader partainya, mengirim kematian ke ujung barat negeri. Dengan tajuk “Operasi Terpadu”, D.O.M pun diberlakukan. 30.000 tentara dan 12.000 polisi ditempatkan di Aceh pada 2003. Hasilnya benar-benar terpadu. Menurut Human Rights Watch, 2000 orang tewas, mayoritas penduduk sipil, kebanyakan dibunuh di luar hukum. 100.000 penduduk menjadi pengungsi di semester pertama operasi militer. Tak puas berlumuran darah hanya sampai disitu, pada tahun yang sama nafsu membunuh itu ditegaskan dalam Undang-Undang Anti Teorisme demi menyeragamkan diri dengan slogan tuan besarnya: “War On Terror”. Demokrasi borjuis adalah jalan kemunafikan tanpa batas. Legislator yang datang ke Sampang ini tau benar bagaimana menjalankan tata laku kemunafikan tersebut.

Belum usai cerita. Saat geladak sampah demokrasi borjuis pecah dan kotorannya tumpah ruah ke jalanan, bau busuk pun menyebar kemana-mana. Kasus Century mengapung, hiruk-pikuk politisi bergentayangan tiap hari di televisi. Moncong Putih, partai milik anak Bung Karno ini segera saja mempertunjukkan kebolehan delegasi-delegasi terbaiknya. Ada Bung Ganjar Pranowo yang seolah-olah cerdas dan berguna. Ada Bung Maruarar Sirait yang menampilkan diri seakan-akan muda, beda dan bertenaga. Sampai Bung Gayus Lumbun yang bercekcok kasar ala gang motor dengan Ruhut Sitompul. Pendekar-pendekar Moncong Putih sigap menyulap diri mereka layaknya Triumvat pembela rakyat, siap mati demi menyelamatkan uang rakyat. Faktanya? Bertahun-tahun sebelum Century menjalankan aksi perampokannya, 22 obligator pengemplang dana BLBI lebih dulu dibebaskan melalui skema Release and Discharge. Angkanya berlipat-lipat lebih fantastis dari Kasus Century yang diduga mendatangkan mega kerugian 7 trilyun rupiah. Nilai penyimpangan BLBI menembus angka 138 trilyun! Silahkan geleng-geleng kepala, Ibu Mega dan kader-kadernya toh sudah lupa. Kebiasaan berbuat jahat membuat sekumpulan orang dengan mudah melupakan kejahatan yang pernah dilakukannya.

Ada lagi? Megawati belakangan ini kerap bicara tentang kemandirian ekonomi. Kader-kader nya pun mengganguk, sambil sesekali mencomot slogan “Berdikari”, “Kedaulatan Ekonomi” dan “Mensejahterakan Rakyat”. Wooow! Ini sepertinya kita sedangbdiajak ke jaman Deklarasi Ekonomi (Dekon) ala Soekarno di tahun 1963. Hebatnya amnesia massal segera saja terjadi, mustinya MURI memasukkannya ke buku rekor Indonesia. Ada ratusan orang amnesia massal secara bersamaan. Sampai-sampai lupa siapakah yang memerintah Laksamana Sukardi agar dengan riang gembira menjadi broker kesurupan yang mengobral BUMN ? Siapakah yang membebek “Washington Concencus”, bersimpuh di lutut IMF dan menciumi pantat World Bank? Bagaimana sikap mereka atas Freeport beserta korporasi pertambangan imperialis lainnya? BBM, TDL dan tarif telepon naik serempak? Penggusuran masif menerjang rakyat miskin kota? Lalu siapakah 118 kader partai yang di kirim ke penjara karena korup dan konon merupakan yang terkorup diantara partai lainnya?

Mereka benar-benar lupa dan berusaha keras agar semua orang ikutan lupa. Sebab musim Pemilu sudah tiba dan lupa adalah senjata.

Pseudo!

*****

Lalu apa pentingnya membahas PDIP?

Diantara daftar menu yang tersedia, partai sayap kanan yang satu ini sepertinya menjadi kekuatan politik yang paling siap memanipulasi dan memberikan ilusi kepada rakyat. Di tengah mood politik rakyat yang bergerak ke arah populisme, oposan yang sudah lapar kekuasaan tersebut, sedikit banyak telah berhasil memberi gincu dan bedak di bibir korengan dan muka bopengnya. Ditambah kehadiran Joko Wi, euforia diantara petinggi Moncong Putih pun meletus bak erupsi Gunung Kelud. Nyaring sekali. Joko Wi tampak lugu, bersahaja, menggunakan bahasa yang sederhana dan suka blusukan. Lagi-lagi hero datang dengan cara yang tak biasa. Mengangkangi paten lama protipe klas penguasa. Sebagaimana yang sempat terjadi di negeri tuannya, pendahulunya, Tuan Obama. Joko Wi pun terbilang menemukan jalan lapang. Ia tak perlu seperti lelaki dari Pernambuco, Brazil. Lula da Silva harus bertahun-tahun dulu aktif di serikat buruh, melawan junta militer, berlaku manis di Porto Allegre, hanya untuk kemudian membuktikan dirinya dan Partindo dos Trabahaldores tak lebih dari komplotan Sosial Demokrat yang penuh tipu dan khianat.

Maka di bulan April dan Juli, rakyat mungkin akan berbondong-bondong datang ke TPS dengan membawa harapan dan mimpi indahnya. Angka golput yang sering dibangga-banggakan intelektual “kiri” sakit kepala itu tampaknya akan kisut seperti balon kempes. Rakyat mungkin juga akan ikut berpawai memenuhi jalan raya kala Joko Wi diumumkan sebagai pemenang. Sampai kemudian rakyat terbangun dari mimpinya, demi kembali berjalan menyusuri kenyataan hidup yang makin keras dan harus belajar ulang dari pengalaman. Kesemuanya ini, alur yang menyedihkan dan membosankan ini, bisa terjadi bukan karena demokrasi borjuis jiplakan, -layaknya sepatu KW di Pasar Tanah Abang-, di negeri ini begitu hebatnya. Justru sebab gerakan yang mengaku “kiri” dan “progresif” teramat sangat payah, bebal dan bangga atas kedunguannya. Tumpul bak pisau karatan. Keras membatu seperti berhala Lata dan Uzza. Bahkan diantara mereka yang paling picik dan malang itu, dengan tak tau malu menyebut Joko Wi memiliki tendensi kerakyatan sebab gemar blusukan. Bukankah hampir semua calon senator di negeri imperialis AS nun jauh disana juga melakukan hal yang serupa?

Pseudo!

Sebagian lapisan klas menengah akan berlanjut menipu diri sendiri meski tentu saja tak akan sekreatif Michael Moore. Mereka merindukan datangnya sosok liberator, sambil jempol mereka mengutak-atik gadget seri terbaru, sementara kepala berdenyut memikirkan kreditan rumah dan mobil. Sisanya lagi akan bernyanyi meniru Pink, lalu memasang status baru di akun Facebook-nya dalam pengertian yang pongah, bertulis:

“We’re not dumb and we’re not blind”

Pseudo!

*) Penulis adalah peternak kambing dan lulusan SMA. Lebih lebih tertarik menyambut Piala Dunia dan mendukung Argentina daripada Pemilu.

Sumber: http://tikusmerah.com/?p=1151
iklan

0 Response to "Pseudo Kerakyatan: Membongkar Ilusi PDIP dan Jokowi"

Posting Komentar

Silahkan berkomentar: